Gambaran Perkiraan penyerahan tongkat & Tasbih. Sumber: Bambang Sutedjo, S.Pd.
Ahad Legi, 04 Januari 2026
MENAPAKI JEJAK RESTU LANGIT
(Refleksi
Satu Abad Masehi Nahdlatul Ulama melalui Napak Tilas Tongkat dan Tasbih)
Oleh: Bambang Sutedjo, S.Pd.
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh:
Satu Abad dalam Garis Waktu Masehi
Sejarah besar sering kali bermula dari langkah kaki
yang sunyi namun sarat akan makna spiritual. Tepat pada Ahad, 4 Januari 2026,
memori kolektif warga Nahdliyin kembali digetarkan oleh sebuah agenda
bersejarah. Komite Dzurriyah Muassis Nahdlatul Ulama menyelenggarakan
"Napak Tilas Isyarat Pendirian NU", sebuah perjalanan simbolis yang
menghubungkan titik-titik krusial kelahiran organisasi keagamaan terbesar di
dunia ini.
Tahun 2026 menjadi momentum istimewa. Jika pada tahun
sebelumnya kita telah merayakan satu abad NU dalam penanggalan Hijriah, maka
tahun ini kita memasuki gerbang 100 tahun Nahdlatul Ulama dalam hitungan Masehi
(1926–2026). Angka ini bukan sekadar statistik waktu, melainkan penanda
ketangguhan sebuah jam'iyyah dalam mengarungi dinamika zaman—mulai dari masa
penjajahan, kemerdekaan, hingga era disrupsi digital.
Perjalanan ini bukan sekadar berjalan kaki atau konvoi
kendaraan. Ini adalah upaya merajut kembali sanad perjuangan yang melibatkan
tiga poros utama pesantren: Bangkalan, Situbondo, dan Tebuireng.
Isyarat – Antara Bangkalan dan
Tebuireng
Napak tilas ini mengambil rute sakral, yakni dari Pondok Pesantren Hadrotis Syeik Syaikhona KH Muhammad Kholil Bin Abdul Latief Bangkalan menuju Hadratus Syeik KH Muhammad Hasyim Asy'ari Pesantren Tebuireng di Jombang. Rute ini menggambarkan peristiwa mahapenting ketika pemuda As'ad Syamsul Arifin (yang kelak menjadi ulama besar KH As’ad Syamsul Arifin) diutus oleh gurunya, Hadrotis Syeik Syaikhona Kholil, untuk menemui Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari.
Dalam narasi sejarah NU, diceritakan bahwa Kiai Hasyim
Asy'ari sempat mengalami kegalauan spiritual saat merumuskan pembentukan
organisasi. Syaikhona Kholil, sebagai guru dari para ulama di Jawa dan Madura,
kemudian mengirimkan isyarat "restu langit" melalui Kiai As'ad dalam
dua tahap:
- Isyarat
Tongkat:
Melalui ayat Al-Qur'an surat Thaha ayat 17-21 tentang mukjizat tongkat
Nabi Musa AS. Ini melambangkan perintah untuk memimpin dan menggerakkan
umat.
- Isyarat
Tasbih:
Melalui asmaul husna Ya Jabbar Ya Qahhar. Ini melambangkan kekuatan
spiritual dan keteguhan hati dalam menghadapi musuh-musuh agama dan
bangsa.
Maka, napak tilas tahun 2026 ini menghadirkan kembali
rombongan dzurriyah yang membawa replika simbolis tongkat dan tasbih tersebut.
Kehadiran dzurriyah Syaikhona Kholil, dzurriyah KH As’ad Syamsul Arifin, dan
dzurriyah KH Hasyim Asy'ari dalam satu barisan menegaskan bahwa persatuan para muassis
adalah fondasi yang tidak boleh retak oleh kepentingan apa pun di abad kedua
ini.
Meneladani Marwah dan
Spiritualitas Muassis
KH Fahmi Amrullah Hadziq, atau yang akrab disapa Gus
Fahmi, salah satu dzurriyah Hadratussyekh KH Hasyim Asy'ari, menyampaikan pesan
mendalam di sela-sela kegiatan. Menurutnya, napak tilas ini bertujuan untuk
menghidupkan kembali "ruh" perjuangan para pendiri.
"Kita tidak boleh melupakan bahwa NU lahir bukan
dari ambisi politik atau ekonomi, melainkan dari kedalaman istikharah dan
ketaatan santri kepada guru. Napak tilas ini mengajak kita semua, khususnya
generasi muda, untuk meneladani ketulusan Kiai As'ad saat berjalan kaki membawa
amanah, serta ketawadhuan Mbah Hasyim saat menerima perintah gurunya,"
ungkap Gus Fahmi.
Bagi ASNUTER PCNU Kabupaten Probolinggo, teladan ini
sangat relevan. Di era modern, tantangan ideologi bukan lagi fisik, melainkan
pertempuran pemikiran. Spiritualitas yang ditunjukkan dalam napak tilas ini
mengingatkan kita bahwa kekuatan NU terletak pada barakah para guru dan
kemurnian ajaran Ahlussunnah wal Jama'ah An-Nahdliyah.
Harapan di Ambang Abad Kedua
Melalui peringatan satu abad Masehi ini, Nahdlatul
Ulama diharapkan terus menjadi kompas moral bagi bangsa. Perjalanan dari Madura
ke Jombang ini adalah pesan bahwa koordinasi dan silaturahmi antar-pesantren
adalah kunci keberhasilan organisasi.
Napak tilas ini diakhiri dengan doa bersama di makam
para muassis, memohon agar di abad kedua ini, pengurus NU di semua
tingkatan—termasuk kita di Kabupaten Probolinggo—diberi kekuatan untuk terus
berkhidmat secara tulus (ikhlasul amal).
Selamat memperingati Satu Abad Masehi Nahdlatul Ulama.
Indonesia damai dan maju bersama umat yang rukun dan bersinergi.
Wallahul
muwaffiq ila aqwamith thariq
